Ketika Jiwa Seni Berbicara

Posted on 26 Mei 2011

3


Akhir-akhir ini saya menjumpai banyak kejadian atau perilaku manusia yang tentunya dapat menjadi pengalaman saya sendiri di kemudian hari nanti. Salah satu kejadian tersebut berkaitan erat dengan jiwa seni yang ada pada diri seorang manusia.

Saya pernah diberi kesempatan untuk membuat desain web sebuah web di salah satu instansi swasta. Walaupun hanya menggunakan Content Management System (CMS) dari WordPress, namun saya berusaha merombak tampilan atau theme dari desain web situs tersebut layaknya situs korporat atau non-blogging.

Selama kurang lebih 5 hari sepulang kuliah saya sempatkan untuk sedikit demi sedikit merampungkan pembuatan tampilan situs tersebut. Dan pada akhirnya selesai lah pekerjaan saya dengan banyak sekali perombakan-perombakan desain coding template yang awalnya saya pakai. Saat di kampus saya perlihatkan hasil desain tersebut ke teman-teman mahasiswa agar saya mendapatkan banyak saran dan kritik dari mereka. Alhamdulillah, sebagian besar teman-teman merasa desain yang telah saya rancang sudah cukup interaktif dan menarik.

Tidak berselang lama, saya pun memperlihatkan dan juga menyerahkan desain tersebut kepada “client” untuk koreksi-koreksi yang mungkin masih kurang. Pada waktu itu, “client” menanggapi dan mengomentari desain saya dengan nada yang positif namun dia berkata ada beberapa warna pada background yang harus diganti. Sedangkan permintaan background yang diminta oleh “client”, menurut ilmu “user friendly” yang pernah saya pelajari memang bertentangan.

Namun apa boleh buat, karena itulah permintaan “client” jadi saya harus menurutinya dan mengubah warna pada background. Situs telah saya upload ke internet dan mulai diisi oleh beberapa artikel-artikel oleh “client”. Di lain waktu, saya meminta bantuan pada teman untuk mengomentari web tersebut. Walhasil, teman-teman saya kaget bukan kepalang dengan pemilihan warna yang terjadi pada web tersebut. Memang ini bukan salah saya, dan saya menjelaskannya pada teman-teman mengenai hal ini.

Akhirnya saya pun dapat menarik sekelumit kesimpulan dari pengalaman di atas, bahwa tidak semua “client” itu setuju dengan desain yang telah Anda buat walaupun menurut kebanyakan pendapat orang lain dan juga diri Anda sendiri sudah baik. Walaupun demikian kita pun harus tetap menghormati permintaan “client” dengan hati yang lebih legowo. Dari sini pula, saya dapat memberikan satu tips bagi Anda yang mungkin mempunyai jiwa seni yang masih kurang, dan sering menyalahkan hasil karya seseorang, yaitu dengan cara mawas dari bahwa setiap karya itu pasti didapat dengan kerja keras, jadi Anda pun harus tetap menghormati dan mendengarkan penjelasan dari si pembuat. Terima kasih.

Ditandai: , ,
Posted in: IT