Sandal Yang Turun Dari Surga

Posted on 3 April 2011

8


Kisah Sandal Emas

Di sebuah desa tinggallah keluarga yang hidup pas pasan dan serba kekurangan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. Ayah tersebut adalah seorang yang sangat zuhud, ia sering menghabiskan banyak waktunya di Musholla di dekat rumahnya, sedangkan pekerjaannya hanya seorang petani dari meminjam tanah tetangganya.

Hidup mereka amat pas-pasan dengan rumah sempit yang bertembok bambu. Berbeda dengan para tetangganya yang mempunyai rumah tembok, hidup makmur dan sering membeli perabotan-perabotan mewah. Seiring waktu, keadaan menjadi tidak baik bagi si ibu, ternyata dia tidak dapat membendung sifat irinya terhadap para tetangga tersebut yang hidupnya memadai.

Para tetangga tersebut sering gonta-ganti perhiasan, motor dan juga barang berharga lain. Sedangkan si ibu tersebut hanya termenung melihat keadaan keluarganya yang amat pas-pasan dan terkadang kesulitan. Dengan keadaan seperti itu, si Ayah masih saja tawakkal dengan sikap zuhudnya. Apabila si ibu mengadu dengan si Ayah mengenai tetangganya, maka dia hanya bilang “itu cuma titipan Allah dan pasti akan dimintai pertanggung jawabannya”. Perkataan tersebut berulang kali dia ucapkan jikalau si ibu mengadu seperti itu.

Kesabaran manusia memang ada batasnya, dan si Ibu pun sempat tidak habis pikir. Dia marah dan mengancam si Ayah dengan sesuatu jika tidak melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Si Ibu juga berkata bahwa dengan hanya sering ke Musholla apa yang akan di dapatkan? Kaya tidak, melarat malah yang kita dapatkan. Itulah yang dikatakan sewaktu si Ibu tersebut marah.

Dengan langkah seribu si Ayah pun lagi-lagi pergi ke Musholla dan berdoa minta pertolongan kepada Allah. Tiba-tiba terdengar seperti ada suara benda jatuh di belakangnya, ia melihat ke belakang dan ternyata ada sebuah sandal yang terbuat dari emas berkilauan. Ia kaget setengah mati, mungkin karena Allah telah mendengarkan doanya. Tidak berselang lama terdengar pula suara aneh yang membisiki si ayah bahwa sandal tersebut adalah sandal istrimu yang saya ambil dari Surga, perkataan tersebut ternyata datang dari malaikat yang tidak tampak.

Si Ayah berfikir, jika sebuah sandal ini adalah milik istri saya yang ada di surga, pastinya di sana ia hanya memakai sebuah sandal di kakinya. Dengan kebingungannya antara membawa sandal tersebut pulang dan tidak, ia ternyata berfikir positif. Jika ia mengembalikan sandal tersebut ke surga maka kecantikan istrinya di surga masih tetap, namun jika tidak maka kecantikannya akan berkurang. Dengan begitu ia melempar sandal tersebut ke atas dan hilang lenyap ditelan langit.

Sesampai di rumah ia menceritakan kejadian tersebut pada istrinya dan bersumpah tidak berbohong akan ceritanya tersebut. Si Ibu percaya dan mereka sekeluarga menjadi keluarga yang sakinah dan berusaha merasa cukup walaupun dilanda kekurangan.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil sebuah hikmah, bahwa sebuah sandal emas yang kita ibaratkan adalah keindahan di surga kemudian di turunkan ke bumi, pasti di surga juga akan berkurang satu sandal emas apalagi yang memakainya adalah istrinya sendiri, tentu ini akan mengurangi kecantikan istri tersebut. Kekayaan dunia ternyata mengurangi keindahan di surga. Wallahu A’lam.

diceritakan oleh KH. Munif bin Muhammad Zuhri, atau biasa disapa Mbah Munif saat pengajian maulid malam jumat di Ponpesnya di desa Girikusuma Mranggen Demak. Cerita tersebut mengandung inti bahwa suatu kemakmuran, kekayaan dan kejayaan di dunia ternyata bisa mengurangi indahnya surga. Cerita ini sedikit banyak didapat dari penuturan beliau, jika ada kesalahan maupun kekeliruan saya mohon maaf karena memang sedikit lupa. Sekali lagi ini hanyalah sebuah cerita.

Sumber gambar: http://picasaweb.google.com/

Posted in: Islam, Religi Area