Telaah Manfaat Kerja Bakti

Posted on 20 Februari 2011

1


Kerja Bakti Warga

Semestinya minggu pagi ini akan saya habiskan dengan membaca beberapa cerita pendek karya O’Henry, sebab itulah alternatif kegiatan saya diwaktu senggang atau dikala tak ada kerjaan penting, sebelum saya teringat bahwa minggu pagi ini ada kerja bakti pembangunan talut di RW saya. Setelah merampungkan dua judul bacaan, tak lupa mencari celana pendek di almari untuk ikut nimbrung kerja bakti bersama para tetangga.

Material untuk pembangunan sudah dipersiapkan, beberapa warga desa lain juga sudah memulai pekerjaannya masing-masing. Mulai dari mengangkati batu, mencangkul tanah yang akan dipakai untuk pembangunan talut hingga mengukur jarak penalutan dengan benang agar nantinya bangunan teratur sesuai yang diharapkan.

Para warga begitu antusias melaksanakan kerja bakti ini, tua muda gotong royong memanfaatkan momentum ini agar pembangunan desa dapat berjalan dengan lancar dan tertib. Selanjutnya, karena saya sendiri bukan termasuk orang yang kompeten di bidang pembangunan, jadi cukuplah diriku sekedar ikut mengangkati batu belah. Seusai tanah dicangkul rapi, giliran batu-batu tersebut dipasangkan kedalamnya disertai adonan pasir dan semen. Semua ditata sedemikian rupa sehingga membentuk talut yang baik guna melancarkan aliran air selokan disaat musim hujan nanti.

Malam minggu sebelum pembangunan talut berlangsung, seluruh warga sempat berkumpul terlebih dahulu untuk membahas tentang persiapan pembangunan di minggu pagi ini. Waktu itu saya juga mendengarkan sekelumit ujaran yang diberikan oleh bapak RW kepada para warga yang datang dalam pertemuan mengenai makna kerja bakti jika ditelaah dalam dua sudut, yaitu kepentingan desa dan kemaslahatan umat.

Kerja bakti merupakan sarana kebersamaan antar warga guna membantu tercapainya kenyamanan desa dengan melakukan pembangunan-pembanguna yang bermanfaat bagi desa bersangkutan. Karena semua warga terutama pria berkumpul sedangkan ibu-ibu menyiapkan makan dan minum ala kadarnya, menjadikan rasa saling gotong royong dalam kerja bakti tersebut akan menciptakan kerukunan yang mungkin sulit dicapai pada kesempatan lain. Inilah momentum untuk membangun kerukunan antar warga.

Selain menjadi ajang kumpul-kumpul, kerja bakti dapat pula dijadikan sarana refreshing (olah raga), karena tak ayal lagi sebagian warga yang hanya bekerja di dalam kantor mungkin juga jarang menyempatkan diri untuk berolah raga, dan inilah sarana yang baik untuk menjajal kemampuan seluruh otot-otot tubuh mulai dari kaki hingga kepala, bukan hanya otot jari yang biasa digunakan di kantor untuk urusan mengetik keyboard.

Sedangkan jika ditinjau dari perspektif agama, pastilah ada kompensasi atau pahala dari Allah jika kerja bakti tersebut dilakukan dengan jiwa yang ikhlas ataupun dimaksudkan untuk kemaslahatan warga desa pada umumnya.

Pembangunan talut ini juga mengingatkan saya pada peristiwa Perang Khandaq di zaman Rasulullah. Dimana pada waktu itu para kaum muslimin dengan semangat Islam yang membara, bersama-sama membangun parit dimaksudkan untuk menghalau serangan yang akan dilancarkan oleh kaum kafir Quraisy. Bahkan pada saat itu pula Junjungan utama kita, Nabi agung Muhammad SAW, ikut langsung dalam pembangunan.

Dari cermin sejarah Islam di atas, alangkah mulianya jika kita dapat mengambil hikmah yang terkandung, mungkin akan bermanfaat diwaktu-waktu kerja gotong royong seperti ini. Tentunya dengan semangat dan jiwa yang ikhlas.

Selama penulisan artikel ini berlangsung, para warga masih bekerja merampungkan pembangunan talut. Disebabkan karena saya ingin menulis reportase ini dan cukup capek juga, maka sengaja saya tinggalkan arena kerja bakti tersebut. Ayo Semangat Mbangun Deso!!!🙂

Posted in: Islam, Uncategorized