Motivasi Hidup Dikala Cemas

Posted on 18 Februari 2011

0


Malam yang cukup cerah dengan disertai hembusan angin semilir, bintang-bintang nampak bersinar berkilauan walau sedikit tertutup awan dan tak ketinggalan pula bulan yang muncul di balik rindangnya pepohonan di desa Girikusumo. Semua orang berduyun-duyun menghadiri pengajian Maulid Nabi yang rutin dilakukan tiap malam Jum’at di Ponpes Ki Ageng Giri, tak peduli meskipun parkir yang penuh sesak dengan motor dan hanya duduk di depan emperan masjid dengan menggunakan seberkas kertas koran bekas. Begitulah semangat para Jamaah untuk bertemu kekasih Allah, Sayyidina Muhammad SAW.

Sesampai di desa Girikusumo kira-kira pukul 10 malam, saya langsung memarkirkan motor di tempat yang telah disediakan oleh panitia, bersama beberapa Jamaah lain saya pun langsung menuju tempat pengajian. Seolah-olah Jamaah Maulid Girikusumo ini semakin bertambah banyak, untuk masuk ke pekarangan Masjid saja harus berdesak-desakkan dengan banyak jamaah yang telah duduk tabaruk di sepanjang jalan. Panitia pengajian juga menyediakan layar LCD besar yang ditaruh tepat di depan Masjid sebagai penambah kekhusyukan Jamaah. Saya sendiri malam itu, cukup duduk di pekarangan Masjid bersama jamaah lain yang datang terlambat dan dari kejauhan terlihat pula para Kyai, Ulama’ dan Habaib pemimpin acara pengajian ini.

Hemat cerita, usai pembacaan kitab Diba’ kemudian dilanjut dengan do’a yang disampaikan oleh beberapa Kyai maupun Ulama’ setempat. Setelah itu KH. Munif bin Muhammad Zuhri melanjutkan dengan memberikan tausiyah-tausiyah yang inti dari semuanya merupakan motivasi bagi manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta.

Seperti biasanya, tidak ada topik pasti untuk ceramah yang disampaikan oleh Mbah Munif malam itu, karena beliau selalu menekankan berbagai hal yang menyangkut instrumen keimanan pada diri manusia. Diantara pesan-pesan yang disampaikan oleh Mbah Munif adalah mengenai seseorang yang sangat pintar dalam suatu bidang maupun banyak bidang belum tentu dirinya adalah seorang yang kaya hartanya. Namun sering kita lihat, ada pula seorang yang mempunyai ilmu sedikit, akan tetapi kekayaannya melampaui para pejabat tinggi negara. Corak kehidupan di dunia memang unik seperti yang disinggung tadi, namun hal tersebut tidak serta merta dapat menjadikan manusia tersebut meloyalkan keagungan Allah dari pada harta yang ia dapat.

Lanjut lagi, orang yang kaya mempunyai identik dengan kenikmatan dan kemakmuran yang di dunia. Menurut penuturan Mbah Munif, kenikmatan dan kemakmuran tersebut sebenarnya adalah cuilan dari Surga, cuilan ini bisa kita artikan pengurangan kenikmatan surga. Dengan demikian alangkah naifnya jika kita tidak mensyukuri berbagai kenikmatan tersebut, yang di akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawabannya.

Satu pesan dari ceramah Mbah Munif yang cukup mengenang di pikiran saya adalah apabila kita mendapat berbagai kecemasan, rasa prihatin terhadap suatu hal yang sedang kita hadapi, maka luapkanlah semua perasaan tersebut dengan berdo’a kepada Allah, dan yang paling penting adalah ikhtiar dan pasrah menghadapi berbagai ujian maupun cobaan. Karena umumnya jika dihadapkan dalam suatu permasalahan pelik, manusia akan banyak mengeluh tanpa memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan, kemudian dengan masalah tersebut ia akan berdo’a meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut untuknya. Maka dengan ini, berdoalah meminta petunjuk hidup yang lurus dan selalu ikhlas dalam menghadapi cobaan semoga Allah selalu memberi yang terbaik pada kita.

Sesuai dengan firman Allah yang artinya kurang lebih adalah “Berdoalah pada-Ku niscaya aku akan mengabulkannya”.

Sebuah motivasi di kala hati sedang cemas, sedih, maupun prihatin dari Mbah Munif tersebut memang cukup sulit untuk kita aplikasikan di kehidupan nyata. Hanya sebuah usahalah yang dapat kita lakukan, karena dengan usaha insya Allah kita akan dikategorikan sebagai orang-orang yang berikhtiar. Dan semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Wassalam.

Posted in: Islam, Religi Area