Cerita Tentang Cahaya di Hati

Posted on 13 Februari 2011

2


Pengajian Girikusumo

Apabila manusia berbuat baik, maka di dalam hatinya akan tersirat benih-benih ketenangan dan kedamaian, namun sebaliknya jika manusia tersebut berbuat suatu tindakan kurang baik, maka hati akan kian cemas, pikiran pun sering kacau karena perbuatan yang ia lakukan tersebut. Agama menyuruh kita untuk selalu melakukan yang terbaik walaupun itu dibarengi dengan adanya kepahitan dan meskipun dalam kondisi yang terdesak tetaplah untuk selalu berbuat baik sesuai dengan norma agama karena Allah selalu mengawasi gerak-gerik kita.

 

Saat pengajian maulid malam Jum’at di Ponpes Girikusumo, saya sempat mendapatkan siraman rohani yang tema ceramahnya menyangkut perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Beliau, K.H Munif bin Muhammad Zuhri atau biasa disapa oleh jamaah dengan panggilan Mbah Munif, menuturkan bahwa “seseorang yang melakukan berbagai amalan baik seperti Shalat 5 waktu di Masjid, Shodaqoh Jariyah, membantu sesama dan juga amalan baik lainnya, semua itu adalah karena di dalam hati manusia tersebut terdapat cahaya silau yang selalu menerangi“.

Ada kalanya suatu waktu kita secara tiba-tiba ingin melaksanakan suatu ibadah, maka kejadian itu dapat digolongkan karena adanya cahaya Ilahi dalam hati. Ambil contoh misalnya, seusai pulang kuliah atau pulang kerja biasanya kita melewati jalanan yang padat dan ramai, kemudian di suatu tempat secara tidak sengaja kita melihat masjid dan dengan melihatnya hati kita menjadi tenang, dan kita pun tertarik lalu berhenti di masjid tersebut kemudian melaksakan Sholat berjamaah. Cahaya dalam hati akan memberikan nuansa batin yang lebih nyaman, rileks dan menjadikan kita tidak mudah terpengaruh dengan keruwetan-keruwetan yang ada di dunia ini.

Mbah Munif kemudian menambahkan lagi, sebagai makhluk ciptaan Allah kita pasti dituntut dan diwajibkan untuk selalu menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ada resep-resep yang perlu kita ketahui untuk selalu bertaqwa dan mendekatkan diri pada-Nya seraya beribadah dengan tekun. Inti dari resep ini adalah tidak terlalu senang dengan hal-hal yang berbau dan bersifat dunia, karena jika hal itu telah merasuk ke jiwa manusia maka dipastikan hati akan kian keras dan kelabu. Dunia ini sering kali menjadikan manusia terperangah dengan gemilaunya, kehidupan malam yang bergelora, wanita yang menebar keharuman, gedung-gedung yang tinggi menjulang, rumah-rumah yang mewah dan megah, membuat manusia tertarik untuk mendekat dan merasakan bagaimana dunia tersebut. Inilah trik-trik jitu setan yang akan menjerumuskan manusia ke lubang kenistaan. Namun jika keindahan dunia kita manfaatkan sebagai sarana bersyukur kepada Allah, maka nikmat-nikmat itu akan diganti dengan kemuliaan yang akan kita terima baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Hilang dan berkurangnya rasa senang terhadap dunia dapat memberi efek yang baik pada setiap qalbu manusia, hati selalu kian bercahaya dan mata batin pun akan semakin tajam. Kaya di dunia memang tidak ada melarang, namun dengan kekayaan itu kita diperingatkan oleh Islam agar tidak tergiur terlalu dalam dan terus mencari dunia. Sehingga pada suatu saat kita mendapat cobaan berupa kekurangan bahkan kemiskinan, maka iman di hati akan terus menempel dan sulit lepas. Lebih baik miskin tetapi bersyukur dari pada kaya tetapi nista. Maka dari itu, kemantapan hati untuk selalu menuju sang Illahi memang diperlukan oleh setiap insan manusia. kemantapan untuk beribadah, kemantapan untuk beramal sholih, dan juga kemantapan untuk selalu berbuat amal kebaikan.

Jika kita dapat menghindari gemerlap dunia dan semakin mendekat dengan kedamaian agama, maka sifat zuhud pun akan semakin terpancar dalam diri kita. Karena agama mencegah kita dari kesenangan-kesenangan dunia yang bersifat sementara. Tidak dapat dipungkiri lagi, suatu kisah dunia akan menyebabkan manusia akan lupa dengan akhirat. Misal ada seseorang yang gigih mencari nafkah, ia merupakan pekerja kantor yang tiap harinya dihabiskan di depan komputer hingga kesibukannya menyebabkan lalai untuk melaksanakan jamaah shalat, bahkan jika shalat pun fikirannya masih berkutat dengan tugas-tugas kantor. Adalah disebabkan oleh dunia adanya kerusuhan-kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini, mereka berebut kekuasaan dan lupa akan agama yang membimbingnya setiap saat.

Penuturan-penuturan di atas adalah apa yang telah saya ambil dari ceramah Simbah Munif bin Muhammad Zuhri. Semoga kita dapat mengambil hikmah-hikmahnya dan dapat mengaplikasikannya dalam melakukan kehidupan di dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Amin.

Posted in: Islam, Religi Area