Maghrib dan Jamaahnya

Posted on 3 Februari 2011

0


Ayo Maghriban Dulu !

Seharian ini saya ditemani keyboard, tak lain halnya adalah untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Memang minggu-minggu ini adalah minggu yang  dipenuhi dengan “killer schedule”, penuh dengan kegiatan yang membuat pikiran terkejut dan pusing bukan kepalang. Namun saat ini saya tidak akan membicarakan tentang tugas-tugas kampus atau yang berhubungan dengan kampus.

Pada sore ini, saya berhenti mengetik tugas laporan Praktikum Arsitektur dan Perancangan Perangkat Lunak, bukan karena telah selesai mengerjakan namun adalah waktu yang memanggil saya untuk berhenti berkutat dengan tugas dan menyuruh untuk segera Shalat Maghrib. Kira-kira jam 6 petang saya selesai, adzan Maghrib terdengar di mana-mana, di TV maupun di musholla yang berada di desa saya, yang jumlahnya lebih dari sepuluh musholla.

Sebagai seorang muslim, kewajiban Shalat harus diutamakan dari pekerjaan apapun yang berbau dunia. Karena Shalat tidak bisa kita anggap sepele, Shalat adalah tiang agama, jika kita tidak melaksanakan Shalat berarti satu tiang di dalam agama Islam akan runtuh, dan imbasnya pun akan kembali pada seluruh kaum muslimin.

Coba saja pikirkan, jika kita mempunyai sebuah rumah lalu di salah satu tiangnya terjadi retak, pastilah kita pusing dan bingung bukan kepalang, kita berpikir “bagaimana nanti jika tiang tersebut roboh?”. Namun, tiang tersebut ternyata adalah tiang rumah, dan bagaimana jika salah satu tiang dari agama Islam retak, tak dapat dipungkiri lagi maka seluruh kaum muslimin pun akan ikut menanggung akibatnya jika sewaktu-waktu tiang tersebut roboh. Astaghfirullah.

Di Musholla dekat rumah saya, yang berjarak kira-kira beberapa puluh meter (kurang lebih 50-an meter), adalah musholla yang bisa dibilang paling besar diantara musholla di desa saya. Bangunannya cukup megah dan cantik untuk seukuran Mushollah, namun ada beberapa renovasi yang belum terselesaikan.

Saat itu adalah waktunya untuk menunaikan Shalat Maghrib, seperti biasa saya berniat untuk melaksanakan jamaah di Musholla. Sebelumnya saya membersihkan badan dahulu alias mandi, selesai mandi ternyata iqamat telah berkumandang. Langsung saja saya menunaikan wudhu dan buru-buru berpakaian. Sesampainya di Musholla saya sedikit tercengang, ternyata dari 10 shaf laki-laki yang tersedia kesemuanya hampir penuh, tapi ada sebagian shaf paling belakang yang belum terisi untuk segera saya tempati. Kali ini sayabertindak sebagai Makmum Masbuq karena terlambat dua rakaat.

Dari kejadian di atas, saya menemukan hal menarik dan inilah kebiasaan kita sebagai kaum muslim dalam menjalankan Shalat berjamaah. Kita semua pasti tahu 27 Derajat disediakan Allah untuk pahala berjamaah, belum lagi jika kita berjalan menuju tempat Shalat, itupun masih dihitung pahala oleh Allah. Begitu murahnya rahmat dan pahala dari Allah untuk kita, jika ibadah kita lakukan  dengan ikhlas dan ridho.

Lanjut lagi mengenai jamaah Maghrib. Penuh, sesak, kadang juga diselingi keramaian oleh anak-anak yang ikut berjamaah. Berbeda dengan jamaah Shalat Subuh, terkadang satu shaf pun tidak penuh. Mungkin cerita mengenai Jamaah di atas sering kita dengar dari tulisan-tulisan lain. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita sedikit merenung agar selalu konsisten dalam berjamaah, tidak hanya saat Maghrib atau Isya’, Dhuhur Ashar dan Subuh pun seharusnya kita usahakan.

Sedikit tambahan saja, agar kita selalu bersemangat untuk melakukan ibadah, salah satu cara yang cukup manjur untuk kita lakukan adalah mengunjungi pengajian atau mendengarkan ceramah-ceramah Ulama secara langsung. Insya Allah, dengan kegiatan tersebut kita akan selalu termotivasi untuk selalu memikirkan hal-hal yang berbau akhirat dan sedikit melupakan dunia yang rusak ini.


Semoga Allah selalu meridhoi apa yang kita usahakan. Amin.

Seharian ini saya ditemani keyboard, tak lain halnya adalah untuk

mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Memang minggu-minggu ini adalah minggu yang

dipenuhi dengan “killer schedule”, penuh dengan kegiatan yang membuat

pikiran terkejut dan pusing bukan kepalang. Namun saya tidak akan membicarakan tentang tugas-tugas kampus

atau yang berhubungan dengan kampus.

Pada sore ini, saya berhenti mengetik tugas laporan Praktikum

Arsitektur dan Perancangan Perangkat Lunak, bukan karena telah

selesai mengerjakan namun adalah waktu yang memanggil saya untuk

berhenti berkutat dengan tugas dan menyuruh untuk segera Shalat

Maghrib. Kira-kira jam 6 petang saya selesai, adzan maghrib

terdengar di mana-mana, di TV maupun di musholla yang berada di desa

saya, yang jumlahnya lebih dari sepuluh musholla.

Sebagai seorang muslim, kewajiban Shalat harus diutamakan dari

pekerjaan apapun yang berbau dunia. Karena Shalat tidak bisa kita

anggap sepele, Shalat adalah tiang agama, jika kita tidak

melaksanakan Shalat berarti satu tiang di dalam agama Islam akan

runtuh, dan imbasnya pun akan kembali pada seluruh kaum muslimin.

Coba saja pikirkan, jika kita mempunyai sebuah rumah lalu di salah

satu tiangnya terjadi retak, pastilah kita pusing dan bingung bukan

kepalang, kita berpikir “bagaimana nanti jika tiang tersebut

roboh?”. Namun, tiang tersebut ternyata adalah tiang rumah, dan bagaimana

jika salah satu tiang dari agama Islam retak, tak dapat dipungkiri

lagi maka seluruh kaum muslimin pun akan ikut menanggung akibatnya

jika sewaktu-waktu tiang tersebut roboh. Astaghfirullah.

Di Musholla dekat rumah saya, yang berjarak kira-kira beberapa puluh

meter (kurang lebih 50-an meter), adalah musholla yang bisa dibilang

paling besar diantara musholla di desa saya. Bangunannya cukup

cantik namun ada beberapa renovasi yang belum terselesaikan.

Saat itu adalah waktunya untuk menunaikan Shalat Maghrib, seperti

biasa saya berniat untuk melaksanakan jamaah di Musholla. Sebelumnya

saya membersihkan badan dahulu alias mandi, selesai mandi ternyata

iqamat telah berkumandang. Langsung saja saya menunaikan wudhu dan buru-buru

berpakaian. Sesampainya di Musholla saya sedikit tercengang,

ternyata dari 10 shaf laki-laki yang tersedia kesemuanya hampir penuh, tapi

ada sebagian shaf paling belakang yang belum terisi untuk segera saya tempati. Kali ini saya

bertindak sebagai Makmum Masbuq karena terlambat dua rakaat.

Dari kejadian di atas, saya menemukan hal menarik dan inilah

kebiasaan kita sebagai kaum muslim dalam menjalankan Shalat

berjamaah. Kita semua pasti tahu 27 Derajat disediakan Allah untuk

pahala berjamaah, belum lagi jika kita berjalan menuju tempat

Shalat, itupun masih dihitung pahala oleh Allah. Begitu murahnya

rahmat dan pahala dari Allah untuk kita, jika ibadah kita lakukan

dengan ikhlas dan ridho.

Lanjut lagi mengenai jamaah Maghrib. Penuh, sesak, kadang juga

diselingi keramaian oleh anak-anak yang ikut berjamaah. Berbeda

dengan jamaah Shalat Subuh, terkadang satu shaf pun tidak penuh.

Mungkin cerita mengenai Jamaah di atas sering kita dengar dari tulisan-tulisan

lain. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita

sedikit merenung agar selalu konsisten dalam berjamaah, tidak hanya

saat Maghrib atau Isya’, Dhuhur Ashar dan Subuh pun seharusnya kita

usahakan.

Semoga Allah selalu meridhoi apa yang kita usahakan. Amin.

Posted in: Islam, Religi Area