Dakwah Para Wali

Posted on 20 Februari 2010

0


Masa Muda Maulana Malik Ibrahim.

Matahari baru saja tenggelam di Desa Tanggulangin, Gresik, Jawa Timur. Rembulan dan bintang giliran menyapa dengan sinarnya yang elok. Penduduk desa tampak ceria menyambut cuaca malam itu. Sebagian mereka berbincang santai di beranda, duduk lesehan di atas tikar. Mendadak terdengar suara gemuruh. Makin lama makin riuh.

makam Syekh (gresik)

Sejurus kemudian, dari balik pepohonan di perbatasan desa terlihat gerombolan pasukan berkuda –berjumlah sekitar dua puluh orang.Warga Tanggulangin berebut menyelamatkan diri- bergegas masuk ke rumahnya masing-masing. Kawanan tak diundang itu dipimpin oleh Tekuk Penjalin. Ia berperawakan tinggi, kekar, dengan wajah bercambang bauk.

Serahkan harta kalian !,” sergah Penjalin, jawara yang tak asing di kawasan itu. “Kalau menolak, akan kubakar desa ini,”.  Tak satupun penduduk desa yang sanggup menghadapi. Mereka memilih menyelamatkan diri, dari pada “ditekuk-tekuk” oleh Tekuk Penjalin. Merasa tak digubris, kawanan itu siap menghanguskan Tanggulangin.

Obor-obor hendak dilemparkan ke atap rumah-rumah penduduk. Tetapi, mendadak niat itu berhenti. Sekelompok manusia lain, berpakaian putih-putih, tiba-tiba muncul entah dari mana. Rombongan ini dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, Ulama terkenal yang mulai meluaskan pengaruhnya di wilayah Gresik dan sekitarnya.

Ghafur, seorang murid Syekh, maju ke depan. Dengan sopan ia mengingatkan kelakuan tidak terpuji Penjalin. Penjalin tentu tak terima. Apalagi, orang yang mengingatkannya tak terkenal di rimba persilatan Gresik. Dalam waktu singkat, terjadilah pertarungan seru. Penduduk Tanggulangin, yang melihat pertempuran itu, ramai-ramai keluar, lalu membantu Ghafur.

Akhirnya, Penjalin dan pasukannya kocar-kacir. Tapi, penjalin tak mau menuruti perintah Ghafur agar membubarkan anak buahnya. Ghafur tak punya pilihan lain, ia harus membunuh Penjalin. Baru saja tiba pada keputusan itu, tiba-tiba wajahnya diludahi penjalin. Ghafur marah sekali. Aneh, di puncak kemarahan itu, ia malah melangkah surut.

Penjalin terperangah. “mengapa tak jadi membunuh aku?” ia bertanya. Ghafur menjawab, “Karena kamu telah membuatku marah, dan aku tak boleh menghukum orang dalam keadaan marah”. Mendengar “dakwah” ini, disusul oleh perbincangan singkat, Penjalin dan gerombolannya tertarik memeluk agama Islam.

Menanggapi cerita singkat di atas, sebenarnya point paling penting di akhir cerita tersebut merupakan pelajaran yang sangat patut kita teladani. Dakwah tidak harus dengan kekerasan dan keradikalan yang saat ini sering kita lihat di lingkungan kita. Penghancuran rumah-rumah ibadah, bahkan terorisme yang meraja-lela.

Walaupun Ghafur (Murid Syekh Maulana Malik Ibrahim) sedang dalam keadaan marah, tapi beliau sanggup meredam kemarahannya dengan tidak membunuh Tekuk Penjalin yang masuk Islam karna kesabaran Ghafur.

Kemarahan merupakan salah satu hawa nafsu yang harus kita perangi. Maka perangilah kemarahan, Perangilah Nafsumu ! Sabda Rosulullah : “Janganlah engkau marah-marah dan bagi engkau adalah surga“.

Wassalamu’alaikum.

Posted in: Islam, Religi Area