Gusdur Yang Klasik

Posted on 1 Januari 2010

4


KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur)

Seperti musik klasik yang kuno tetapi begitu musik ini nikmat untuk didengarkan. Musik klasik walaupun disetel di zaman modern tetapi tak akan mengubah kenikmatan untuk didengar. Gusdur disebut-sebut juga sebagai Ulama’ klasik, walaupun hidup di zaman serba modern seperti ini, tetapi beliau mampu untuk membangun kedaulatan umat dengan baik dan utuh.

Sepeninggalnya Gusdur, membuat para Nahdliyin (warga NU) terus menerus memanjatkan do’a bagi kepergian beliau. Beliau merupakan sosok yang sangat luar biasa bagi warga NU. “jarang sekali menemukan Ulama’ yang seperti beliau” tandas Hasyim Muzadi. Walaupun dengan keterbatasan fisik, namun hal itu tidak menyurutkan dan melemahkan semangat beliau untuk selalu memperbaiki keutuhan umat Islam.

Sampai detik ini, masih banyak kaum Muslim yang datang ke tempat peristirahatan terakhir beliau, yaitu di Ponpes Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Hal itu membuktikan Gusdur masih didambakan oleh rakyat. Beliau meninggalkan satu istri dan 4 orang putri dan meninggalkan seluruh rakyat Indonesia.

Tanpa kuduga, sore hari itu setelah menunaikan Sholat Isya’ saya kaget melihat berita yang sangat menggemparkan itu. Hatiku sontak tak karuan walaupun saya bukan apa-apanya seorang Gusdur, tapi hati ini menangis melihat kepergian seorang Ulama’ yang begitu berarti bagi warga NU.

Meskipun Ulama’ besar, Gusdur juga seorang politisi yang mapan. Tidak ada musuh bagi beliau, tetapi musuh selalu ada dihadapan beliau. Mutiara akan tetap berkilau meski dibenamkan di dalam lumpur. Sosok yang hebat itu kini telah tiada dan sekarang berada di alam sana. Selamat jalan Gus !! Kami selalu mendo’akanmu !! Indonesia kehilangan bagian tubuhnya !!

Allohummaghfir Lahu Warkhamhu Wa’afihi Wa’fuanhu. Amin.

Posted in: Islam, Religi Area