Penjual Buku dan Calon Pembeli

Posted on 6 Desember 2009

0


kitab kuning

Pada suatu ketika, ada seorang penjual buku-buku agama keliling, seperti biasa dia menjual dagangan bukunya tersebut di masjid atau tempat-tempat pengajian. Saat Sholat Jum’at merupakan waktu yang tepat untuk menggelar jualannya di masjid-masjid besar. Sebenarnya ini merupakan sebuah pekerjaan yang mulia menurut pandangan sebagian besar orang, dia menjual berbagai macam kitab kuning, buku agama umum, buku mengenai Sholat, sampai Mushaf Alqur’an.

Akan tetapi dan sungguh sangat disayangkan, pemuda yang berjualan ini mempunyai maksud tertentu dia memilih pekerjaan ini. Karna pemuda ini mempunyai paham Islam yang selalu mencela dan kadang mungkin mengkafirkan seorang yang berbeda paham dengan dia. Suatu waktu pemuda tersebut mencoba untuk membelokkan iman salah seorang calon pembeli bukunya.

Nah, seusai Sholat Jumat, banyak orang beduyun-duyun keluar dari Masjid, lalu ada seseorang yang mendatangi tempat jualan buku-bukunya. Saat calon pembeli tersebut memilih-milih buku yang ia sukai, pemuda penjual buku tersebut menanyai calon pembelinya. “Mas, sering ngaji kitab kuning ?” tanya penjual, “Ya, Alhamdulillah  !” jawab calon pembeli. Lalu penjual tersebut menyodorkan 3 buah buku, yang diantaranya Mushaf Al-Qur’an, Kitab Kuning, dan Kitab Mengenai Hadist Nabi. Kembali penjual tersebut menanyai calon pembeli, “Dari tiga ini, pilih yang mana menurut sampeyan ?” lalu dijawab “Ya, pilih Al-Qur’an”.

Singkat cerita, pemuda penjual tersebut lalu berujar, “Kenapa kalau saat ini Anda memilih Al-Qur’an lalu masih saja belajar kitab kuning ? bukannya belajar kitab kuning tidak pernah ada dimasa Rasulullah ? Berarti hal tersebut Bid’ah dan Bid’ah itu sesat !” akan tetapi dengan sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh calon pembeli dia menjawab, “Apa sih mas ! yang di dalam kitab kuning itu, hal-hal yang tidak ada di Al-Qur’an dan Hadist ? Coba Anda pelajari dulu ??” Lantas calon pembeli tersebut pergi dari tempatnya tanpa membeli. Dan pemuda yang berjualan tersebut tidak dapat menjawabnya sembari menutup jualannya.

Masya Allah, inilah pekerjaan orang-orang penyangkal yang selalu mengkafirkan orang-orang yang berbeda faham dengan fahamnya. Janganlah seperti penjual tersebut. Kita ingin mengislamkan seseorang saja sulitnya bukan main, malahan dengan mudahnya selalu mengkafirkan dan menyesatkan seseorang yang juga beragama Islam.

Wallahu A’lam.

Posted in: Islam, Religi Area