Cara Menghadapi Penguasa Busuk

Posted on 11 Agustus 2009

1


Pagi ini saya membaca majalah Risalah NU yaitu edisi 7 tahun 1429 H, saya sempat tersenyum kaget setelah membaca salah satu tulisan yang berjudul “Cara Menghadapi Penguasa” ditulis oleh saudara Musthafa Helmy. Inilah tulisannya :

Pada Muktamar NU di Surabaya tahun 1972, beberapa tokoh PBNU antara lain H.M Subchan ZE dan K.H Achmad Syaichu menghadap K.H Ma’shum bin Ahmad, seorang ulama besar yang berasal dari Lasem Jawa Tengah, di kamar penginapan beliau di Hotel Brantas, Surabaya. Para tokoh PBNU itu mengadukan perilaku penguasa militer kala itu yang berkeinginan mengkerdilkan peran NU dalam politik dan menginginkan jalan keluar.

Spontan, Mbah Ma’shum (panggilan akrab beliau) meluncur sebait syair dari bibirnya yang selalu basah dengan Zikir dan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu. Begini syairnya :

وَاسْجُدْ لِقِرْدِ السُّوْءِ فِي زَمَانِهِ وَدَارِهِ مَا دُمْتُ فِي سُلْطَانِهِ

Yang Artinya :

(Tetap tunduklah kepada kera busuk ketika ia berkuasa di zamannya. Serta layanilah kehendaknya selama engkau masih dalam genggaman kekuasaannya).

Konon, syair ini menjadi hiburan para pemimpin NU kala itu yang harus tabah menghadapi kenyataan ‘kalah’ dalam Pemilu 1972.

Mbah Ma’shum, pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Soditan, Lasem, Jawa Tengah dan ayahanda K.H Ali Ma’shum (mantan Rais Am Syuriah PBNU dan pengasuh PonPes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta) itu termasuk salah seorang pendiri NU. Mbah Ma’shum wafat pada 12 Ramadhan 1392 atau 20 Oktober 1972 beberapa bulan setelah Muktamar NU Surabaya selesai.

Dari tulisan ringkas di atas, pastilah kita dapat mengambil tauladannya. Semoga bermanfaat.

Sumber : “Risalah NU”

Posted in: Islam